Ceweknya Tampak Kalem Polos Ternyata Penyepong Handal - Indo18 Review

Di sebuah sudut gang sempit Kota Bandung, tepat di depan warung kopi susu yang selalu dipenuhi aroma karamel dan wangi roti bakar, duduk seorang mahasiswa jurusan teknik sipil bernama Rizal. Ia menunggu temannya, Dika, yang selalu terlambat karena sibuk mengerjakan tugas akhir.

Saat ia menyesap kopi, matanya menempel pada seorang gadis yang duduk sendirian di meja sebelah. Ia memakai kaos putih polos, celana hitam lurus, dan kacamata bulat yang menambah kesan “kalem” pada penampilannya. Rambutnya diikat rapi, tidak ada aksesoris mencolok. Ia sibuk menulis sesuatu di buku catatan kulit berwarna cokelat, sesekali mengangkat kepalanya menatap orang-orang yang lewat.

Rizal, yang biasanya pemalu, tak dapat menahan rasa ingin tahunya. “Kalem banget ya,” gumamnya pada dirinya sendiri. “Kayaknya orangnya sederhana, nggak ada yang menonjol‑menonjol.” Tanpa sadar, ia sudah menatap gadis itu selama hampir lima menit.

Tiba‑tiba, seorang pria berpenampilan rapi, mengenakan jas hitam dan tas kerja, berdiri di depan meja kopi. Ia menaruh sebuah dompet tebal di kursi kosong di sebelah gadis itu dan bergegas pergi, seolah‑olah sedang menunggu seseorang. Di sebuah sudut gang sempit Kota Bandung, tepat

Gadis itu menoleh, tersenyum tipis, lalu membuka dompet itu. Di dalamnya, terdapat setumpuk uang kertas, kartu identitas, dan sebuah kartu nama yang bertuliskan “PT. Securitas Prima”. Rizal menelan ludahnya. Ia tak menyangka apa yang akan terjadi selanjutnya.


Banyak yang menilai penampilan Siti terlalu sederhana untuk seorang entrepreneur muda. Namun, ia menjelaskan bahwa kesederhanaan justru menjadi nilai jualnya.

“Orang biasanya mengaitkan fashion dengan glamor, padahal keindahan itu bisa datang dari kesederhanaan. Saat klien melihat saya, mereka tidak langsung menilai kualitas karya saya, melainkan melihat ketulusan dan konsistensi dalam setiap jahitan,” tuturnya. Banyak yang menilai penampilan Siti terlalu sederhana untuk

Sari mengakhiri demonstrasinya dengan menekan tombol “stop”. Seorang petugas keamanan yang berada di dalam toko tiba‑tiba muncul, menegur pria muda itu, dan langsung memanggil polisi. Pria itu pun dibawa pergi dengan tangan terikat.

“Terima kasih, Sari,” kata Dika, masih terkejut. “Kamu memang penyepong handal.”

Sari tersenyum, lalu menutup bukunya. “Kalau begitu, kalian ingin tahu kenapa saya suka memakai pakaian polos?” tanya ia. menegur pria muda itu

Rizal mengangguk, “Tentu.”

“Saya belajar dari seorang guru dulu—dia bilang, ‘Jika ingin menjadi hantu, bersikaplah seperti orang biasa. Karena ketika orang lain melihatmu sebagai bagian dari keramaian, mereka tak akan curiga.’ Jadi, saya selalu memilih penampilan yang tidak menonjol. Itu strategi terpenting dalam pekerjaan ini,” jelas Sari.