Keluarga yang membangun pernikahan di atas praktik mistis pada istri muda tidak akan pernah menemukan kebahagiaan sejati. Justru, kehancuran sosial adalah keniscayaan.
Rasulullah SAW bersabda, "Jauhilah oleh kalian tujuh dosa yang membinasakan," dan salah satunya adalah sihir (HR. Bukhari-Muslim). Praktik guna-guna pada istri muda mengharuskan adanya perjanjian dengan jin atau setan, termasuk ritual kotor dan ucapan yang melecehkan agama. Pelakunya—baik dukun maupun suami yang memerintahkan—terancam keluar dari iman jika tidak bertaubat.
Mari kita lihat studi kasus (nama disamarkan) dari seorang perempuan berinisial S (34 tahun). S dinikahi sebagai istri muda oleh seorang pengusaha kaya bernama R. Sebelum menikah, S merasa ragu karena R sudah beristri dan memiliki tiga anak. Namun, setelah diberi "air wudu" dan kue yang sudah dirukyah secara terbalik oleh dukun langganan R, S tiba-tiba merasa sangat cinta dan tidak bisa menjauh. AKIBAT GUNA-GUNA ISTRI MUDA
Tiga bulan setelah pernikahan, S berubah. Ia sering bicara sendiri, tidak mau bertemu orang tua kandungnya, dan mengelus perutnya terus meski tidak hamil. Suatu malam, S berteriak histeris, merobek-robek Al-Quran, dan mencoba menceburkan diri ke sumur. Setelah dibawa ke ustadz yang ahli ruqyah, diketahui bahwa dalam tubuh S ada 3 jin pengganggu yang ditugaskan untuk "menguncang panca indera dan perasaannya.
R, sang suami, bukannya menyesal, justru marah karena "investasi sihirnya" gagal. Ia memukul S hingga pingsan. Akhirnya, keluarga S melaporkan R ke polisi, dan kasus ini menjadi pelajaran: guna-guna tidak pernah menghasilkan kebahagiaan, yang ada hanya kehancuran beruntun. Keluarga yang membangun pernikahan di atas praktik mistis
Guna-guna (santet, sihir) sering muncul dalam cerita rakyat dan kepercayaan populer di banyak komunitas. Ketika topiknya dikaitkan dengan “istri muda”, penting membedakan antara kepercayaan tradisional dan realitas psikologis/sosial. Artikel singkat ini membahas kemungkinan akibat yang sering dilaporkan atau diyakini masyarakat, serta pendekatan rasional untuk menanganinya.
Dalam khazanah budaya Nusantara, praktik perdukunan dan guna-guna masih menjadi bayang-bayang yang meresahkan, terutama dalam kehidupan rumah tangga. Salah satu narasi yang sering muncul adalah penggunaan guna-guna oleh seorang istri muda untuk merebut atau mempertahankan suami dari istri pertama. Di balik mitos dan cerita rakyat, fenomena ini menyimpan akibat yang nyata dan multidimensi—bukan hanya secara gaib, tetapi lebih jauh pada tatanan psikologis, sosial, dan hukum. Guna-guna (santet, sihir) sering muncul dalam cerita rakyat
Akibat guna-guna istri muda bukanlah sekadar kisah horror murahan, melainkan realita pilu yang terjadi di banyak keluarga poligami yang tidak sehat. Jauh dari hasil yang diharapkan (yaitu istri muda penurut dan rumah tangga harmonis), yang didapatkan adalah: depresi, trauma, KDRT, kerusakan fisik, dosa besar, dan kehancuran generasi.
Tidak ada cinta sejati yang dibangun dengan paksaan, apalagi dengan bantuan makhluk halus. Jika seorang pria benar-benar ingin berpoligami secara adil, maka jalani dengan syariat yang benar, rida dari semua pihak, dan tanpa rekayasa gaib. Ingatlah, guna-guna adalah investasi jangka pendek dengan utang pahala yang tidak akan mampu dibayar sampai akhir hayat.
Lebih baik bercerai daripada mempertahankan pernikahan dengan guna-guna. Lebih baik sendiri daripada merusak tubuh dan jiwa wanita tak berdosa demi nafsu sesaat. Semoga tulisan ini menjadi peringatan bagi siapa pun yang sedang tergoda untuk menggunakan atau memerintahkan guna-guna terhadap istri muda. Selamatkan iman, selamatkan keluarga.
Jika Anda merasa menjadi korban guna-guna, segera hubungi konselor keluarga, psikolog, atau lembaga ruqyah terdekat. Jangan biarkan diri Anda hidup dalam belenggu sihir. Masih ada pertolongan dari Allah bagi hamba-Nya yang mau kembali ke jalan yang benar.